Rabu, 27 Maret 2019


Jika diperhatikan bayi yang baru lahir biasanya sering bersin. Bagi orangtua baru, hal ini biasanya cukup mencemaskan. Namun jangan khawatir, pasalnya bukan hanya anak Anda yang mengalaminya, melainkan hampir semua bayi yang baru lahir sering bersin-bersin. Mengapa bisa begitu?

Penyebab bersin-bersin pada bayi yang baru lahir

Semenjak lahir ke dunia, apakah bayi Ibu sering bersin? Tak perlu panik dulu, sebab hal ini sangat normal terjadi. Bukan karena kedinginan atau sakit, bersin menjadi cara alami tubuh bayi untuk membersihkan saluran hidung dan pernapasannya.

Sama seperti orang dewasa, bayi bersin secara refleks. Kondisi ini terjadi ketika ada yang tidak beres pada saluran hidungnya. Bayi yang baru lahir memiliki saluran hidung yang lebih kecil dibandingkan orang dewasa. Oleh karena ukurannya lebih kecil, hidung bayi sangat mudah tersumbat.

ASI, lendir, dan debu menjadi penyebab paling umum yang menyumbat saluran napas buah hati Anda. Ketika bayi bersin, itu adalah sebuah tanda bahwa ia sedang menyingkirkan berbagai sumbatan yang menutupi saluran pernapasannya.

Selain itu, menurut Glade Curtis, M.D., seorang dokter kandungan di Amerika Serikat, bersin juga membantu membuka kembali lubang hidung bayi yang tertutup sementara saat menyusui. Oleh karena itu, bayi akan membukanya kembali dengan cara bersin.

Untuk itu, jika bayi sering bersin tanpa disertai tanda penyakit lain, tak perlu khawatir. Hal ini dilakukan tubuh si kecil untuk membuatnya tetap bisa bernapas dengan sempurna.


Ini tandanya jika sering bersin pada bayi diakibatkan oleh penyakit

Meski normal, bayi yang baru lahir juga bisa bersin karena jatuh sakit. Biasanya bayi yang sering bersin tandanya sedang mengalami infeksi pernapasan. Agar ibu mudah mengenalinya, berikut berbagai gejala selain bersin yang menjadi tanda penyakit:
  • Batuk
  • Sulit bernapas
  • Tidak mau makan atau minum
  • Kelelahan, biasanya ditandai dengan tubuh yang lemas
  • Demam di atas 38  ° C
Dalam beberapa kasus, frekuensi bersin yang sering pada bayi bisa jadi merupakan tanda Neonatal Abstinence Syndrome (NAS). Kondisi ini biasanya terjadi ketika seorang ibu telah menyalahgunakan zat tertentu dan mengalami kecanduan selama kehamilan. Beberapa zat yang paling sering disalahgunakan, misalnya alkohol, heroin, dan metadon.

Selain bersin-bersin, sindrom ini biasanya ditandai dengan gejala seperti:
  • Hidung tersumbat
  • Tremor
  • Tidak mengisap puting terus-terusan saat menyusui
  • Pelekatan saat menyusui yang tidak normal
Biasanya dokter mencari tanda-tanda NAS pada bayi salah satunya dengan melihat intensitas bersin. Ketika bayi bersin tiga sampai empat kali berturut-turut dalam rentang waktu 30 menit bisa jadi ia mengalami sindrom yang satu ini.

Segera periksakan ke dokter

Jika Anda melihat berbagai gejala lain pada bayi selain sering bersin, segera konsultasikan ke dokter. Apalagi jika anak mulai bersin disertai dengan mengi. Bawalah buah hati Anda ke dokter spesialis anak untuk mencari tahu penyebab pastinya. Memeriksakannya secara dini dapat membantu mencegah keparahan kondisi.

Jangan anggap sepele jika tubuh bayi telah menunjukkan gejala yang tidak normal. Pasalnya, anak yang baru lahir belum bisa mengadukan kondisinya selain menangis. Untuk itu, jangan tunda lagi untuk membawanya ke dokter agar perkembangannya tak terganggu.

Jumat, 22 Maret 2019

Mata Merah dan Sensitif Akibat Keratitis? Ini 3 Kunci Penting Mengobatinya


Keratitis adalah jenis infeksi mata yang paling sering dialami oleh orang yang pakai lensa kontak. Kondisi ini menyebabkan mata terasa perih, kemerahan, dan cenderung sensitif terhadap cahaya. Nah, untuk mengatasi rasa tidak nyaman pada mata, simak berbagai cara mengobati infeksi mata akibat keratitis berikut ini, yuk!

Apakah keratitis pada mata bisa sembuh sendiri?


Keratitis adalah kondisi ketika bagian kornea Anda mengalami peradangan atau infeksi. Penyebabnya bisa karena infeksi virus, bakteri, jamur, atau bisa juga karena cedera pada mata.

Orang yang sering memakai lensa kontak juga berisiko tinggi mengalami keratitis. Lensa kontak yang tidak bersih dapat memindahkan kuman dan bakteri dari lensa ke permukaan mata. Kondisi ini diperparah jika Anda sering pakai lensa kontak kelamaan, jarang mengganti lensa kontak, atau memakai lensa kontak yang sudah kedaluwarsa.

Orang yang mengalami keratitis biasanya akan mengalami mata merah, berair, terasa perih, dan sensitif terhadap cahaya. Namun hati-hati, infeksi mata ini bisa menyebabkan kerusakan mata permanen hingga kebutaan jika tidak segera diobati.

Kabar baiknya, keratitis pada mata sebetulnya bisa sembuh sendiri alias tanpa pengobatan. Akan tetapi, hal ini tergantung dari penyebab keratitis itu sendiri.

Anda tidak perlu mengobati infeksi mata akibat keratitis jika disebabkan oleh cedera, contohnya karena kebiasaan mengucek mata. Biasanya, mata merah atau perih yang dirasakan akan hilang sendiri saat mata Anda sembuh. Bila perlu, Anda bahkan hanya membutuhkan obat tetes mata untuk mempercepat penyembuhannya.

Namun, apabila keratitis menyebabkan infeksi yang lebih dalam pada kornea mata, maka kondisi ini dapat meninggalkan bekas luka yang tak boleh disepelekan. Jika dibiarkan terus-menerus, luka tersebut bisa merusak penglihatan atau bahkan menyebabkan kebutaan. Untuk mencegahnya, pergilah ke dokter mata terdekat sesegera mungkin untuk mengobati infeksi mata akibat keratitis.

Berbagai cara mengobati infeksi mata akibat keratitis


1. Air mata buatan

Cara mengobati infeksi mata akibat keratitis yang tergolong ringan adalah dengan menggunakan air mata buatan. Jenis pengobatan ini bekerja dengan cara meningkatkan jumlah cairan pada mata sekaligus mengurangi penguapan air mata. Dengan begitu, rasa perih dan merah di mata akan berkurang secara perlahan.

Air mata buatan ini bisa berbentuk obat tetes, salep, atau gel. Nah, Anda bisa memilihnya sesuai kebutuhan. Bila rasa nyeri pada mata tergolong ringan, lalu Anda mencari obat yang mudah dan nyaman digunakan, maka obat tetes bisa menjadi pilihan yang tepat.

Pemilihan obat tetes mata juga harus disesuaikan lagi dengan penyebab keratitis yang Anda alami. Bila keratitis disebabkan oleh jamur, maka Anda membutuhkan obat tetes mata yang sifatnya antijamur.

Sedangkan untuk mengobati infeksi mata akibat keratitis yang tergolong parah, Anda mungkin membutuhkan obat berbentuk salep atau gel. Jenis obat ini sebaiknya digunakan pada malam hari karena teksturnya lebih kental dan dapat bikin pandangan kabur sejenak.

2. Antibiotik

Antibiotik oral digunakan untuk mengobati infeksi mata akibat keratitis bakteri yang tergolong sedang hingga berat. Jenis obat ini berfungsi untuk melawan bakteri dan menghilangkan infeksi pada mata.

3. Transplantasi kornea

Transplantasi kornea dapat dilakukan untuk mengobati infeksi mata akibat keratitis acanthamoeba. Acanthamoeba itu sendiri adalah sejenis parasit yang bisa membuat kornea meradang dan cenderung sulit disembuhkan.

Sebagai langkah awal, Anda sebetulnya bisa mengobati infeksi mata ini dengan obat tetes mata yang mengandung antibiotik. Namun sayangnya, beberapa jenis parasit acanthamoeba cenderung resisten terhadap pengobatan.

Ketika keratitis tidak dapat diobati atau menyebabkan kornea rusak permanen, maka dokter akan menganjurkan transplantasi kornea sebagai jalan terakhir. Kornea yang sudah rusak akan diangkat dan diganti dengan jaringan kornea sehat dari mata pendonor. Secara bertahap, kedua mata Anda akan kembali jernih dan kian jelas untuk melihat.

Sebelum Operasi Mengecilkan Payudara, Ketahui Dulu Prosedur dan Risikonya


Memiliki payudara besar dan indah kerap menjadi impian sebagian kaum wanita. Namun, bagi beberapa wanita hal ini justru bisa membawa masalah. Kalau sudah begini, operasi mengecilkan payudara jadi salah satu solusinya. Apa saja yang perlu dipersiapkan?

Apa itu operasi mengecilkan payudara?

Dilansir dari Mayo Clinic, operasi mengecilkan payudara adalah prosedur yang dilakukan untuk menghilangkan kelebihan lemak, jaringan, dan kulit dari payudara. Biasanya prosedur ini dilakukan seseorang karena banyak faktor, seperti:

  • Mengalami nyeri punggung, leher, dan bahu yang kronis.
  • Ruam kronis atau iritasi kulit di bawah payudara.
  • Terbatasnya akivitas fisik yang bisa dijalani.
  • Citra diri yang buruk akibat payudara yang terlalu besar.
  • Sulit mencari bra dan pakaian yang pas.
Namun, tidak semua orang yang punya masalah di atas boleh melakukan prosedur mengecilkan payudara ini. Dokter biasanya tidak menyarankan jika Anda:
  • Perokok
  • Memiliki penyakit serius seperti diabetes atau jantung
  • Sangat gemuk
Meski umumnya dilakukan oleh wanita, nyatanya operasi ini juga bisa saja diperlukan oleh laki-laki yang mengalami ginekomastia. Laki-laki dengan ginekomastia mengalami pembesaran pada jaringan payudaranya.

Operasi ini bisa dilakukan di usia berapa pun, termasuk saat remaja. Namun sebaiknya, lakukan hal ini ketika pertumbuhan payudara telah terhenti, seperti di usia 20 tahun ke atas.

Persiapan sebelum operasi mengecilkan payudara

Sebelum melakukan prosedur mengecilkan payudara, hal pertama yang perlu Anda lakukan tentulah berkonsultasi ke dokter bedah.

Beri tahu riwayat medis Anda dengan rinci. Jangan lupa untuk menanyakan apakah benar cara ini merupakan satu-satunya solusi yang tepat untuk mengecilkan payudara Anda.

Setelah disetujui, dokter akan menjelaskan berbagai informasi yang perlu Anda ketahui mengenai prosedur ini. Saat semuanya telah pasti, dokter akan meminta Anda melakukan beberapa persiapan, seperti:

  • Menyelesaikan berbagai tes laboratorium yang dibutuhkan.
  • Melakukan mammografi dasar.
  • Berhenti merokok dalam jangka waktu tertentu sebelum dan sesudah operasi.
  • Tidak minum aspirin, obat antiradang, dan suplemen herbal.

Jangan lupa siapkan perlengkapan pribadi seperti baju ganti untuk menjalani rawat inap.

Prosedur operasi mengecilkan payudara

Agar Anda memiliki bayangan seperti apa prosedur operasi ini berjalan, berikut gambarannya:

Selama operasi mengecilkan payudara

  1. Dokter akan membuat sayatan di sekitar areola (area gelap di sekitar puting payudara) pada kedua sisi payudara.
  2. Mengangkat jaringan, lemak, dan kulit payudara sesuai kebutuhan.
  3. Menjahit kembali sayatan sambil melakukan perubahan posisi puting dan areola.

Setelah operasi mengecilkan payudara

  1. Dokter akan menutup bekas sayatan di payudara dengan kasa atau perban.
  2. Menaruh tabung kecil di bawah masing-masing lengan untuk mengalirkan darah atau cairan berlebih.
  3. Meresepkan obat pereda nyeri dan antibiotik untuk mengurangi risiko infeksi.

Proses pemulihan dari operasi mengecilkan payudara


Di minggu pertama setelah operasi, payudara biasanya akan terasa lembut dan sangat sensitif. Selain itu, payudara juga akan terlihat bengkak dan memar.

Dokter biasanya merekomendasikan Anda untuk memakai bra kompresi elastis untuk melindungi payudara.

Setelah itu, Anda akan diminta untuk membatasi aktivitas fisik selama dua hingga empat minggu ke depan. Dokter juga biasanya menyarankan Anda untuk tidak memakai bra kawat selama beberapa bulan.

Anda juga tidak disarankan untuk mengangkat benda-benda berat terlebih dahulu.

Risiko operasi mengecilkan payudara

Sama seperti prosedur medis lainnya, operasi  ini memiliki berbagai risiko yang sudah harus siap Anda hadapi, seperti:

  • Memar pada payudara.
  • Munculnya jaringan parut.
  • Hilangnya sensasi pada puting susu dan areola.
  • Sulit atau bahkan tak bisa lagi menyusui.
  • Adanya perbedaan ukuran, bentuk, dan simetri payudara kiri dan kanan.

Operasi mengecilkan payudara biasanya memiliki hasil yang permanen dan tahan lama. Namun, seiring dengan berjalannya waktu bentuk payudara tetap bisa berubah karena penuaan, perubahan berat badan, dan faktor hormon.

Pernah merasa hidung tersumbat hingga akhirnya Hidung adalah indera penciuman yang menjadi bagian dari sistem pernapasan manusia. Bila hidung bermasalah, tentu Anda akan sulit bernapas dengan lega. Supaya kebersihan dan kesehatan hidung Anda tetap terjaga, ikuti beberapa langkah-langkah perawatannya berikut ini.

Langkah-langkah menjaga kebersihan dan kesehatan hidung

Tahukah bagaimana cara kerja hidung Anda? Awalnya udara terhirup oleh hidung, melewati sel saraf khusus untuk mendeteksi bau yang disebut olfaktori. Kemudian, saraf mengubah bau menjadi informasi dan mengirimkannya pada otak untuk diterjemahkan. Otak akan mengenali bau tersebut menjadi lebih spesifik, seperti harum bunga mawar atau bau sampah.

Selain mendeteksi bau, hidung juga menyaring oksigen untuk dikirimkan ke seluruh tubuh. Rambut di sekitar hidung juga membersihkan udara dari partikel asing. Udara bersih tersebut akan bergerak melewati saluran hidung, dihangatkan dan dilembapkan sebelum masuk ke paru-paru.

Supaya Anda dapat bernapas dengan lega dan mengenali bau apa pun dengan baik, kesehatan hidung perlu diperhatikan. Ikuti langkah-langkahnya berikut ini:

1. Hindari polutan dan zat yang mengiritasi hidung

Asap rokok, polusi, dan debu adalah musuh bagi hidung Anda. Zat iritan tersebut mengurangi efektivitas hidung untuk menyaring, menghangatkan, dan melembapkan udara. Akibatnya, sinus akan membengkak dan menyumbat serta memicu timbulnya gejala alergi yang lebih buruk.

Untuk mengurangi paparan zat tersebut, hentikan kebiasaan merokok. Sebisa mungkin untuk menjauh dari orang-orang yang merokok dan memakai masker hidung saat keluar rumah.

2. Banyak minum air putih

Hidung Anda memproduksi lendir untuk menjebak kotoran dari udara yang terhirup. Salah satu cara untuk mendukung kesehatan hidung dalam memproduksi lendir tetap normal —tetap tipis, mengalir lancar, dan jumlahnya cukup— Anda harus banyak minum air putih.

Selain air putih, Anda juga bisa menggantinya dengan jus buah atau susu. Sayangnya, produk susu pada sebagian orang dapat menyebabkan lendir menebal dan rentan menyebabkan kemacetan di saluran hidung. Jadi, tetap perhatikan seberapa banyak Anda minum susu per hari. Selain itu, batasi kebiasaan minum alkohol karena minuman ini dapat menebalkan lendir di hidung.

3. Kurangi kebiasaan mengupil

Mengupil memang bisa membersihkan hidung dari kotoran yang menyumbat. Namun, juga rentan dengan iritasi karena hidung memiliki banyak pembuluh darah kecil yang amat rapuh.

Ketika jari Anda masuk mengorek kotoran hidung, kuku Anda bisa mengenai pembuluh tersebut. Akibatnya, pembuluh darah akan pecah dan menyebabkan Anda mimisan.

Menurut dr. Brett Comer, seorang ahli bedah kepala dan leher sekaligus asisten dosen di Fakultasi Otolaringologi di University of Kentucky memaparkan dampak negatif mengupil bagi kesehatan hidung.

Begitu pembuluh darah pecah, proses penyembuhannya memakan waktu lama. Apalagi jika menyebabkan bagian dalam hidung luka, perlu beberapa minggu untuk sembuh total.

Mengupil dengan kuku kotor juga bisa meningkatkan risiko infeksi. Ini bisa menyebabkan terbentuknya abses (benjolan kecil berisi nanah) di dalam hidung.

4. Jaga udara tetap lembap

Udara yang kering dapat memicu alergi dan menyebabkan hidung mudah mimisan. Selain itu, udara kering juga mengurangi ketajaman kerja hidung untuk menjebak kotoran yang masuk bersama udara. Supaya udara tetap lembap, Anda bisa menggunakan humidifier di kantor dan kamar tidur. Bisa juga dengan mandi atau berendam air panas untuk melembapkan sinus.

5. Rajin membersihkan hidung

Dibanding mengupil, kesehatan hidung akan lebih terjadi jika dibersihkan menggunakan semprotan saline. Caranya cukup mudah, ikuti langkah-langkah seperti:


  • Siapkan semprotan saline dan cairan garam isotonik steril.
  • Posisikan kepala agak condong ke depan dan miringkan kepala sedikit ke arah kanan atau kiri.
  • Masukkan air saline pada lubang hidung posisi atas dalam kondisi kepala miring. Jika semprotan saline dimasukkan ke arah kiri, maka kepala harus miring ke kanan, begitu pula sebaliknya.
  • Lalu semprotkan cairan saline ke dalam lubang hidung pelan-pelan. Jangan dihirup, tapi biarkan air keluar meleati lubang hidung satunya lagi.
  • Keluarkan sisa air seperti membuang ingus, namun jangan terlalu kencang. Lakukan penyemprotan secara bergantian.

Kamis, 21 Maret 2019


Anda tentu ingin memiliki kulit kepala yang sehat, bukan? Kulit kepala yang sehat menjaga kekokohan rambut dan semua mendukung aktivitas Anda. Sebaliknya, jika kulit kepala bermasalah akibat infeksi jamur, parasit, atau bakteri, kulit kepala akan terasa gatal bukan main, kemerahan, bahkan membentuk luka. Jika Anda mengalami infeksi kulit kepala, bagaimana cara mengatasinya?

Berbagai cara mengatasi infeksi kulit kepala

Jamur dan bakteri dapat tumbuh di kulit kepala dan menyebabkan infeksi lewat folikel rambut. Jika tidak diatasi, bukan hanya gejalanya yang mengganggu, rambut Anda pun dapat rontok dan menyebabkan kebotakan. Infeksi pun dapat berkembang karena Anda terus menggaruknya tanpa henti. Jika tidak ingin hal ini terjadi, Anda harus segera mengatasi infeksi kulit kepala sesuai penyebabnya, seperti:

1. Mengatasi kurap pada kulit kepala

Kurap adalah infeksi jamur yang menyebabkan bercak kemerahan berbentuk cincin pada kulit. Jika terjadi pada kulit kepala atau disebut juga dengan tinea capitis, area tersebut akan bersisik dan cenderung botak. Tanpa pengobatan, kurap bisa menyebar ke area kulit lainnya.

Untuk mengatasi infeksi kulit kepala ini, dokter akan memberikan obat antijamur dan pereda gatal, baik itu losion, krim, atau berupa bedak. Sementara obat antijamur tablet biasanya dianjurkan untuk diminum selama 1 hingga 3 bulan.

Supaya tidak terkena penyakit ini lagi, Anda perlu menjaga kebersihan tubuh dan rumah. Biasakan untuk mencuci tangan setelah bermain di luar rumah, berenang, atau memegang hewan peliharaan.

Meski kurap pada hewan tidak menimbulkan kurap pada kulit manusia, namun infeksi pada kulit tetap bisa terjadi. Jadi, selalu pastikan jika hewan peliharaan selalu bersih. Selain itu, tidak meminjam handuk atau barang pribadi lainnya pada orang yang memiliki kurap.

2. Mengatasi folikulitis pada kulit kepala

Kulit Anda dilengkapi dengan folikel, tempat tumbuhnya rambut. Jika kebersihan tubuh Anda buruk, bakteri dapat dengan mudah masuk melalui folikel dan menyebabkan infeksi kulit kepala. Kondisi ini disebut juga dengan folikulitis. Jika terjadi pada kulit kepala, maka akan muncul ruam yang terasa gatal dan perih.

Untuk melegakan kulit dari rasa gatal, Anda bisa menempelkan kompres hangat di kepala. Kemudian, tingkatkan kebersihan rambut, seperti rajin keramas, tidak membiarkan rambut lembap, dan menggunakan ikat rambut, handuk, topi, atau kerudung yang bersih.

Selain itu, hindari juga memakai penutup kepala yang ketat dan membiarkan kulit kepala berkeringat. Pada beberapa kasus, antibiotik diperlukan untuk membunuh bakteri penyebab infeksi.

3. Mengatasi impetigo pada kulit kepala

Selain folikulitis, infeksi bakteri pada kulit kepala juga bisa menyebabkan impetigo. Biasanya masalah kulit ini berkembang di area kulit yang mengalami kerusakan. Impetigo menimbulkan ruam merah disertai kulit berkerak kuning kecokelatan. Selain itu, dapat menyebabkan lepuhan berisi cairan yang gatal dan nyeri.

Cara untuk mengatasinya adalah minum antibiotik dan mengoleskan salep antibiotik pada area yang terinfeksi. Meski penyakit ini mudah menular, pemberian antibiotik akan menghentikan penularan dalam waktu 48 jam. Biasanya gejala impetigo akan hilang sekitar satu minggu setelah diobati dengan antibiotik.

4. Mengatasi dermatitis seboroik pada kulit kepala

Infeksi kulit kepala yang paling umum terjadi adalah dermatitis seboroik. Infeksi kulit kepala ini menyebabkan ruam, kulit kering bersisik, kadang mengelupas seperti ketombe. Jika Anda memiliki kondisi ini, Anda harus rutin membersihkan serpihan kulit mengelupas.

Gunakan sampo antiketombe yang mudah ditemukan di toko. Selain itu, gunakan pelembap rambut untuk mencegah kulit kepala semakin kering.

5. Mengatasi infeksi jamur pada kulit kepala

Meski jarang, infeksi jamur juga bisa terjadi pada kulit kepala. Hal ini terjadi akibat terganggunya keseimbangan jamur di kulit akibat penggunaan produk perawatan rambut yang tidak cocok, stres, dan masalah kesehatan lain, seperti diabetes.

Sama seperti perawatan rambut lainnya, Anda harus memperhatikan kebersihan rambut. Tidak membiarkan rambut dalam keadaan lembap atau menggunakan penutup kepala dalam waktu lama. Minum obat antijamur atau oleskan salep antijamur pada kulit kepala.




Efek Obat Bius Bikin Badan Lemas? Yuk, Pulihkan Tubuh Lebih Cepat Dengan 5 Langkah
Setelah operasi, kebanyakan pasien biasanya mengeluh badan lemas, sakit kepala, mual, atau bahkan sampai muntah. Hal ini pertanda bahwa obat bius yang diberikan saat operasi mungkin masih ada di dalam tubuh Anda. Namun tak perlu khawatir. Ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk mempercepat pemulihan dari efek obat bius tersebut. Bagaimana caranya?

Tips mempercepat pemulihan dari efek obat bius


Efek obat bius yang diberikan saat operasi umumnya bertahan dalam tubuh selama 24 jam sejak awal diberikan. Selama masih ada sisa-sisa obat bius dalam tubuh, maka Anda masih bisa merasakan sakit kepala, mual, muntah, dan efek samping bius lainnya.

Seiring berjalannya waktu, pengaruh obat bius lambat laun akan berkurang dan tubuh kembali berfungsi dengan normal. Ketimbang berdiam diri terus-terusan, ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk mempercepat pemulihan dari efek obat bius, di antaranya:

1. Minum air putih

Sehabis operasi, pastikan kebutuhan cairan tubuh Anda tetap terpenuhi. Selain dengan minum air putih, Anda juga boleh mengonsumsi sup bening atau jus buah untuk menjaga hidrasi tubuh.

Minum air putih yang cukup dapat membantu membilas sisa-sisa obat bius yang masih tertinggal di dalam tubuh. Hal ini juga dapat membantu mempercepat pemulihan setelah operasi, sehingga tubuh Anda semakin cepat fit dan sehat.

2. Atur pola makan

Banyak pasien yang mengeluh tidak nafsu makan karena diliputi rasa mual atau sembelit setelah operasi. Sensasi mual dan sembelit tersebut merupakan efek samping bius yang diberikan saat operasi.

Namun, ini bukan berarti Anda lantas membiarkan perut tetap kosong, ya! Justru, Anda harus tetap makan supaya kebutuhan vitamin dan mineral tubuh tetap terpenuhi. Selain itu, asupan makanan juga penting untuk mempercepat pemulihan dan meminimalisir risiko komplikasi setelah oeprasi.

Sebisa mungkin, usahakan untuk tetap makan sebanyak yang Anda bisa. Kalau memang Anda tidak sanggup makan sebanyak 3 kali sehari dengan porsi normal, coba dibagi menjadi porsi yang lebih sedikit tapi sering.

Perhatikan juga jenis makanan yang dikonsumsi. Perbanyaklah asupan makanan yang mengandung tinggi serat, contohnya sayuran, buah-buahan, atau roti gandum, untuk mencegah sembelit. Selain terasa tidak nyaman, sembelit juga dapat meningkatkan rasa sakit dan menghambat proses pemulihan.

Sebaiknya hindari juga berbagai makanan yang manis atau pedas untuk sementara waktu. Sebab, jenis makanan tersebut dapat menghambat pergerakan usus dan memperparah sembelit.

3. Istirahat yang cukup

Karena efek obat bius masih ada dalam tubuh setidaknya 24 jam pasca operasi, Anda tidak dianjurkan untuk melakukan berbagai aktivitas yang membutuhkan konsentrasi tinggi. Misalnya menandatangani dokumen penting, berjalan jauh, dan sebagainya.

Pasalnya, obat bius dapat memengaruhi koordinasi tubuh dan cara Anda berpikir atau merespon sesuatu. Ini juga yang menjadi alasan kenapa Anda sebaiknya ditemani oleh keluarga, pasangan, atau orang dewasa lainnya saat berada di ruang pemulihan. Merekalah yang akan menjaga Anda sampai benar-benar pulih.

Maka itu, pastikan Anda mendapatkan istirahat yang cukup setiap hari untuk mempercepat pemulihan. Biarkan efek samping obat bius berkurang sedikit demi sedikit sampai tubuh Anda kembali pulih dan fit setelah operasi.

4. Minum obat dengan teratur


Dokter biasanya akan memberikan obat nyeri untuk mengurangi rasa sakit di tubuh pasca operasi. Namun, beberapa pasien kadang merasa ragu atau bahkan menolak minum obat karena takut kecanduan.

Hal ini perlu diluruskan. Semakin Anda mampu mengendalikan rasa sakit dengan minum obat, proses pemulihannya pun justru akan semakin cepat. Jadi, jangan tunggu sampai badan Anda terasa sakit, baru minum obat. Ikuti aturan minum obat dari dokter, baik jadwal maupun dosisnya, supaya pemulihannya lebih cepat.

5. Konsultasi ke dokter


Kunci terpenting untuk mempercepat pemulihan dari efek obat bius adalah selalu ikuti instruksi dari dokter. Pasalnya, banyak yang menyepelekan saran dokter sehingga pada akhirnya menghambat proses pemulihan setelah operasi.

Misalnya saja, Anda diminta untuk tetap berbaring di tempat tidur selama 24 jam setelah operasi. Anjuran ini tentu bukan tanpa sebab, justru salah satunya bermanfaat untuk mengurangi sakit kepala yang sering muncul setelah operasi. Berbaring di tempat tidur juga penting untuk mencegah infeksi dan mempercepat penyembuhan bekas luka operasi.

Bila Anda masih mengalami sakit kepala, mual, atau muntah tanpa henti, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter. Dokter akan memantau perkembangan kesehatan Anda dan melakukan perawatan lanjutan guna mengurangi efek samping bius dalam tubuh Anda.

Popular Posts

Blog Archive